Minggu, Maret 27

KOMUNIKASI DALAM KONSELING

Pentingnya komunikasi dalam semua sendi kehidupan adalah suatu hal yang tidak bisa dipungkiri  manusia, begitu juga halnya dalam proses konseling. Oleh karena keterlibatan komunikasi ini hampir diseluruh sendi kehidupan manusia, maka telaah komunikasi dilakukan pula dengan dan dari berbagai disiplin ilmu : antropologi, biologi, ekonomi, sosiologi, linguistik, psikologi, politik, matematik, enginereering, neurofisiologi, filsafat, dan sebagainya. Sehingga kita mengenal adanya istilah-istilah Komunikasi Sosial, Komunikasi Bisnis, Komunikasi Politik, Komunikasi Massa, Komunikasi Psikologi bahkan Komunikasi Teuraputik dan sebagainya. Bagi seorang konselor harus memahami tidak hanya pengetahuan di bidang konseling atau psikologi saja namun juga bidang komunikasi.  Namun perlu diketahui juga bahwa dalam berkomunikasi tidak hanya diperlukan pengetahuan dan ketrampilan dalam bidang komunikasi saja namun haruslah didalamnya juga ada sentuhan seni. Jadi komunikasi adalah Ilmu sekaligus Seni.
Dari berbagai disiplin ilmu yang menelaah Komunikasi memunculkan berbagai macam definisi mengenai Komunikasi. Sebagai ilmu, komunikasi dipelajari bermacam-macam disiplin ilmu, antara lain sosiologi dan psikologi. Sosiologi mempelajari komunikasi dalam kontek interaksi sosial, dalam mencapai tujuan-tujuan kelompok. Colon Cherry (1964) mendefinisikan komunikasi sebagai, ”usaha untuk membuat suatu satuan sosial dari individu dengan menggunakan bahasa atau tanda. Memiliki bersama serangkaian peraturan untuk berbagai kegiatan mencapai tujuan.” . Dalam sejarah perkembangannya komunikasi memang dibesarkan oleh para peneliti psikologi. Bapak Ilmu Komunikasi Wilbur Schramm adalah sarjana psikologi. Kurt Lewin adalah ahli psikologi dinamika kelompok. Namun komunikasi bukan subdisiplin dari psikologi. Hovland, Janis, dan Kelly, semuanya psikolog, mendefinisikan komunikasi sebagai ”the process by which an individual (the communicator) transmits stimuli (usually verbal) to modify the behavior of other individuals (the audience).” (Suatu proses dimana seorang individu (communicator) mentransfer stimulan (biasanya verbal) untuk mengubah perilaku orang lain (audiens)Dance mengartikan komunikasi dalam kerangka psikologi behaviorisme sebagai “Suatu usaha menimbulkan respon melalui lambang-lambang verbal.”. Bila sosiologi melihat komunikasi pada interaksi sosial, filsafat pada hubungan manusia dengan realitas lainnya, psikologi pada perilaku individu pelaku komunikasi. Fisher menyebut 4 ciri pendekatan psikologi pada komunikasi :
  • Penerimaan stimulan secara indrawi (sensory reception of stimuli),
  • Proses yang mediasi stimulan dan respon (internal meditation of stimuli),
  • Prediksi respon (prediction of response),
  • Peneguhan respon (reinforcement of responses).
George A.Miller membuat definisi psikologi yang mencakup semuanya : “Psychology is the science that attempts to describe, predict, and control mental and behavioral event.” Dengan demikian, psikologi komunikasi adalah ilmu yang berusaha menguraikan, meramalkan, dan mengendalikan peristiwa mental dan behavioral dalam komunikasi. Peristiwa mental adalah ”internal meditation of stimuli”, sebagai akibat berlangsungnya komunikasi. Psikologi komunikasi juga melihat bagaimana respons yang terjadi pada masa lalu dapat meramalkan respons yang akan datang. Kita harus mengetahui sejarah respons sebelum meramalkan respon individu masa ini. Dari sinilah timbul perhatian pada gudang memori (memory storage) dan set (penghubung masa lalu masa sekarang). Salah satu unsur sejarah respons adalah peneguhan. Peneguhan adalah respons lingkungan (atau orang lain, pada respons organisme yang asli). Bergera dan Lambert menyebutnya feedback (umpan balik). Fisher tetap menyebutnya sebagai peneguhan saja (Fisher, 1978). Jadi dapat dipahami bahwa perkembangan psikologi komunikasi tidak terlepas dari kontribusi disiplin ilmu lain terutama: filsafat, sosiologi, antropologi maupun psikologi itu sendiri. Dengan kontribusi ilmu-ilmu tersebut lahirlah psikologi komunikasi sebagai ilmu yang berusaha menguraikan, meramalkan dan mengendalikan peristiwa mental dan behavioral dalam komunikasi.
Proses komunikasi ini dapat dilakukan dalam diri manusia sendiri, orang lain dan kumpulan manusia dalam proses sosial (massa). Merujuk pendapat tersebut maka Burgon & Huffner (2002) mengkategorikan 3 jenis komunikasi, yaitu:
  1. Komunikasi intrapersonal; komunikasi yang terjadi dalam diri sendiri maka tindak balas yang dilakukan ialah dalam internal diri sendiri (self talk). Contoh, komunikasi yang terjadi saat kita merenung, berdialog dengan diri sendiri (baik sadar maupun secara tidak sadar, misalnya sedang tidur).
  2. Komunikasi interpersonal; komunikasi yang dilakukan dengan orang lain sehingga tindak balas (respon/feedback) dan evaluasinya memerlukan orang lain. Contoh, komunikasi dengan pacar, teman, guru, orang tua dan lain sebagainya.
  3. Komunikasi massa; komunikasi yang dilakukan dalam kumpulan manusia yang terjadi proses sosial di dalamnya, baik melalui media atau langsung dan bersifat one way communication. Contoh, komunikasi yang terjadi di televisi, website, blog, iklan dan lain sebagainya.
Komunikasi yang efektif menurut Stewart L. Tubbs dan Sylvia Moss (1974) paling tidak menimbulkan lima hal :
  1. Pengertian : artinya penerimaan yang cermat dari sisi stimulan seperti yang dimaksud oleh komunikator. Kegagalan menerima isi pesan secara cermat disebut kegagalan komunikasi primer (primary breakdown in communication). Sering kita berselisih hanya karena pesan kita diartikan lain oleh orang yang kita ajak bicara. Perlu pemahaman mengenai psikologi pesan dan psikologi komunikator untuk menghindari hal tersebut. Tidak semua komunikasi ditujukan untuk menyampaikan informasi dan membentuk pengertian. Ketika kita mengucapkan “Selamat pagi, apa kabar?” kita tidak bermaksud mencari keterangan. Komunikasi itu hanya dilakukan untuk mengupayakan agar orang lain merasa ‘senang’ saja, atau apa yang disebut dalam analisis transaksional sebagai “saya oke kamu oke’. Komunikasi tersebut lazim disebut sebagai komunikasi fatis (phatic communication) yang dimaksudkan untuk menimbulkan kesenangan. Komunikasi inilah yang menjadikan hubungan kita hangat, akrab, dan menyenangkan. Dalam hal ini kita perlu mempelajari psikologi tentang sistem komunikasi interpersonal.
  2. Mempengaruhi sikap :Bisa dikatakan bahwa komunikasi yang kita jalin kebanyakan adalah untuk saling mempengaruhi satu sama lain. Termasuk komunikasi dalam proses konseling. Komunikasi membahasakannya dengan, komunikasi persuasif. Komunikasi ini memerlukan pemahaman tentang faktor-faktor pada diri komunikator, dan pesan yang menimbulkan efek pada komunikan. Persuasif sendiri didefinisikan sebagai proses mempengaruhi pendapat, sikap, dan tindakan orang dengan manipulasi psikologis sehingga orang tersebut bertindak seperti atas kehendaknya sendiri.
  3. Hubungan sosial yang baik : Komunikasi yang ditujukan untuk menumbuhkan hubungan sosial yang baik. Manusia adalah makhluk sosial yang tidak tahan hidup sendiri. Kita ingin berhubungan dengan orang lain secara positif. Abraham Maslow (1980) menyebutnya “kebutuhan akan cinta” atau “belongingness”. William Schutz (1966) memerinci kebutuhan sosial ini ke dalam tiga hal inclusion, control, affection. Kebutuhan sosial adalah kebutuhan untuk menumbuhkan dan mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan orang lain dalam hal interaksi dan asosiasi (inclusion), pengendalian dan kekuasaan (control), dan cinta serta kasih sayang (affection). Secara singkat, kita ingin bergabung dan berhubungan dengan orang lain, kita ingin mengendalikan dan dikendalikan, dan kita ingin mencintai dan dicintai. Kebutuhan sosial ini hanya dapat dipenuhi dengan komunikasi interpersonal yang efektif. Dewasa ini para ilmuwan sosial, filusuf, dan ahli agama sering berbicara tentang alienasi (perasaan terasing), kesepian, dan kehilangan keakraban pada manusia modern. “Instead of affection, acceptance, love and joy resulting from being with other, many people feel alone, rejected, ignored, and unloved,” tulis William D. Brooks dan Phillip Emmert (1977)
  4. Tindakan : Di atas telah dibicarakan persuasi sebagai komunikasi untuk mempengaruhi sikap. Persuasi juga ditujukan untuk melahirkan tindakan yang dihendaki. Komunikasi untuk menimbulkan pengertian memang sukar, tetapi lebih sukar lagi mempengaruhi sikap. Jauh lebih sukar lagi mendorong orang bertindak. Menimbulkan tindakan nyata memang indikator yang baik untuk mengukur seberapa besar efektivitas yang terjalin selama komunikasi berlangsung karena untuk menimbulkan tindakan, kita harus berhasil terlebih dahulu menanamkan pengertian, membentuk dan mengubah sikap atau menumbuhkan hubungan yang baik. Tindakan adalah hasil kumulatif seluruh proses komunikasi. Hal ini bukan saja memerlukan pemahaman tentang seluruh mekanisme psikologis yang terlibat dalam proses Komunikasi, tetapi juga faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku manusia.
Sedangkan unsur-unsur dalam komunikasi adalah :
  1. Komunikator (Who ?), sebagai pelaku komunikasi yaitu, orang yang menyampaikan pesan, dalam proses konseling unsur ini (Konselor) mempunyai peran sentral dan sangat menentukan keberhasilan dari keseluruhan proses Konseling.
  2. Komunikan (To Whom ?), yaitu pelaku komunikasi yang menerima pesan, dalam proses konseling unsur ini (Konseli) meskipun tampak berperan ‘pasif’ namun juga mempunyai andil dalam menentukan arah dan hasil proses konseling.
  3. Pesan (Says what ?), yaitu materi atau obyek atau stimulan yang disampaikan oleh komunikator/konselor. Dalam hubungannya dengan proses konseling maka pesan ini mencakup sebagai pengarah di dalam usaha untuk mengubah sikap dan perilaku komunikan/konseli.
  4. Media (In Which Chanel ?), yaitu sarana dan prasarana sebagai alat penunjang untuk terjadinya komunikasi baik hardware maupun softwarenya. Dalam katagori media ini termasuk juga suasana, tempat dan kualitas interaksi yang terjadi antar pelaku komunikasi (antara konselor dan konseli).
  5. Umpan balik/feedback (With What Effect ?), yaitu merupakan respon yang diberikan oleh komunikan (konseli) yang merupakan hasil dari proses komunikasi (konseling). Respon ini bisa berupa pesan balik (dalam hal ini komunikan akan beralih menjadi komunikator dan sebaliknya), atau juga berupa perubahan sikap atau perilaku sebagai hasil akhir (outcome) dari proses komunikasi (konseling).
Menurut Cutli and Center Komunikasi yang efektif harus dilaksanakan dengan melalui empat tahap yaitu :
  1. Pengumpulan data dan fakta (fact finding) yang dilakukan sebelum kegiatan komunikasi berlangsung. Untuk berkomunikasi dengan konseli maka konselor harus telah memiliki data selengkap mungkin yang berkaitan dengan diri konseli (termasuk enviromen-nya), juga harus sudah memiliki fakta-fakta tentang kasus yang dihadapi oleh konseli.
  2. Perencanaan juga perlu disiapkan berdasarkan data dan fakta yang dimiliki konselor, sehingga konselor memahami apa yang akan dikemukanan/ditanyakan dan bagaimana mengemukannnya.
  3. Komunikasi, setelah data dan fakta lengkap serta rencana telah disusun maka segera dapat dilaksanakan proses komunikasi (proses konseling).
  4. Evaluasi, hal yang harus dilakukan secara terus menerus, baik selama komunikasi (konseling) terjadi atau sesudahnya. Penilaian dan analisa diperlukan untuk mengetahui hasil dari proses komunikasi (konseling) untuk menjadibahan penyusunan perencanaan komunikasi selanjutnya.
Tulisan di atas merupakan hasil kompilasi dari berbagai sumber.Semoga bermanfaat.

5 komentar:

  1. Memang betul sekali komuniksi memegang peranan penting dalam berinteraksi dengan orang per orang ataupun kelompok. Dari interaksi itu sendiri nantinya akan akan menghasilkan aksi dan reaksi, dampak positif ataupun negatif akan terlihat dari komunikasi yang kita lakukan. Sekarang ini sering kali kita lihat perilaku seorang pelajar yang tidak sesuai dengan keinginan yang kita harapakan, sebenarnya bukan salah anak itu sendiri ini akibat dari komunikasi yang diterima dan disampaikan kembali pada orang lain yang salah. Komunikasi yang diterima mungkin hanya direkam sesuai dengan lingkungan dimana anak tersebut tinggal.dari fikry muhammad kels 7b

    BalasHapus
  2. Memang betul sekali komuniksi memegang peranan penting dalam berinteraksi dengan orang per orang ataupun kelompok. Dari interaksi itu sendiri nantinya akan akan menghasilkan aksi dan reaksi, dampak positif ataupun negatif akan terlihat dari komunikasi yang kita lakukan. Sekarang ini sering kali kita lihat perilaku seorang pelajar yang tidak sesuai dengan keinginan yang kita harapakan, sebenarnya bukan salah anak itu sendiri ini akibat dari komunikasi yang diterima dan disampaikan kembali pada orang lain yang salah. Komunikasi yang diterima mungkin hanya direkam sesuai dengan lingkungan dimana anak tersebut tinggal.dari fikry muhammad kels 7b

    BalasHapus
  3. Memang betul sekali komuniksi memegang peranan penting dalam berinteraksi dengan orang per orang ataupun kelompok. Dari interaksi itu sendiri nantinya akan akan menghasilkan aksi dan reaksi, dampak positif ataupun negatif akan terlihat dari komunikasi yang kita lakukan. Sekarang ini sering kali kita lihat perilaku seorang pelajar yang tidak sesuai dengan keinginan yang kita harapakan, sebenarnya bukan salah anak itu sendiri ini akibat dari komunikasi yang diterima dan disampaikan kembali pada orang lain yang salah. Komunikasi yang diterima mungkin hanya direkam sesuai dengan lingkungan dimana anak tersebut tinggal.dari fikry muhammad kelas 7b

    BalasHapus
  4. sangat bermanfaat sekali,, izin jadi sumber buk ya?

    BalasHapus

Smpn 3 Cibadak Sukabumi Jawabarat Slideshow: Enita’s trip from Bandung, Jawa, Indonesia to Sukabumi was created by TripAdvisor. See another Sukabumi slideshow. Create your own stunning free slideshow from your travel photos.

Silahkan Tulis Komentar anda disini