Kamis, Maret 24

KONSELING DALAM SUATU PERSPEKTIF HISTORIS


Konseling adalah ilmu yang bersifat multi refensial, karena menggunakan dan memanfaatkan rujukan atau sumbangan dari berbagai ilmu yang lain. Sumbangan tersebut tidak terbatas pada pembentukan dan pengembangan teori-teori konseling, tetapi juga dalam menjalankan fungsinya dan praktek pelayanannya di lapangan.
Gibson dan Mitchell (1990) dalam bukunya Introduction to Counseling and Guidance, Englewood Cliff : Prentice Hall, Inc., menegaskan bahwa untuk membahas konseling sebagai ilmu, dapat dilakukan secara tepat melalui penggalian tentang “akar” dan munculnya konseling sebagai suatu profesi. Dijelaskan bahwa fundasi yang melahirkan konseling adalah bidang psikologi, sehingga lapangan psikologi telah banyak berkontribusi dalam membangun teori dan proses konseling, standarisasi assesment, teknik konseling kelompok dan individual, serta teori perkembangan karir dan pengambilan keputusan.
Secara khusus bidang psikologi tersebut mencakup: (1) Psikologi Pendidikan (teori belajar, tumbuh kembang anak, dan implikasinya dalam setting pendidikan, (2) Psikologi Sosial, untuk membantu pemahaman tentang pengaruh situasi sosial pada individu, termasuk pengaruh lingkungan pada perilaku, (3) Psikologi Ekologis, berkaitan dengan studi tentang keterkaitan dan pengaruh timbal balik antara individu dan lingkungan terhadap suatu perilaku, (4) Psikologi Perkembangan, yang membantu dalam pemahaman mengapa dan bagaimana perkembangan individu dan perubahan-perubahan yang terjadi sepanjang kehidupan.
Disamping mendapat sumbangan dari bidang psikologi, ilmu bimbingan dan konseling juga mendapat kontribusi dari bidang ilmu yang lainnya, seperti sosiologi (untuk pemahaman kelompok manusia dan pengaruhnya terhadap perilaku manusia), antropologi (untuk pemahaman pengaruh timbal balik kebudayaan dan perilaku manusia), biologi (untuk pemahaman organisme manusia dan keunikannya, maupun teknologi (seperti pemanfaat komputer dalam penataan menejemen BP, dsb).
Dari hal tersebut diketahui bahwa obyek formal dari ilmu bimbingan dan konseling adalah layanan bantuan, sehingga sesuai dengan karakteristiknya dan kedudukannya diangkat sebagai suatu profesi bantuan. Hal ini berarti bahwa kedudukan bimbingan dan konseling adalah juga sebagai ilmu terapan (aplied science). Karena itu pula untuk menunjang efektifitas dan efisiensi penerapan/aplikasi dan pengembangannya, telah didukung dengan berbagai pendidikan formal, pengembangan ilmu melalui berbagai penelitian-penelitian lapangan secara ilmiah agar tidak mandul dan steril, dibentuk organisasi profesi, kode etik profesi, serta berbagai kebijakan lain yang menunjang, sehingga pelaksanaannya di lapangan selain menuntut keahlian juga dituntut kemampuan konselor untuk menterjemahkan makna konseling yang dipilih dalam proses konseling yang diberikan sehingga keseluruhan tindakan konseling yang diberikan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Sampai akhir abad 19, konseling atau nasehat diberikan dalam konteks religi. Namun, seiring dengan terjadinya gerakan di bidang kebudayaan dan ideologi pada akhir abad 19, maka secara signifikan telah mendorong terjadinya sekularisasi fungsi bimbingan, sehingga bimbingan dikenal sebagai fenomena abad 20. Hal ini tidak lepas dengan terjadinya industrialisasi serta dampaknya terhadap kehidupan manusia dan permasalahan yang dihadapinya, termasuk di bidang pekerjaan yang akhirnya mengundang kepedulian Frank Parson untuk melakukan gerakan bimbingan vokasional dalam rangka membantu dalam pemilihan pekerjaan. Gerakan ini semakin kokoh dengan lahirnya dua tradisi, yaitu tradisi psikometrik sebagai pengukuran ilmiah terhadap kemampuan individu, serta tradisi bimbingan vokasional. Dalam perkembangannya, sejak tahun 1930 muncul reformulasi psikologis dalam bimbingan, terutama melalui penerapan prosedur-prosedur ilmiah dan klinikal, yang kemudian ditempatkan sebagai suatu dasar ilmiah dan redifinisi bimbingan vokasional sebagai konseling.
Berdasarkan latar belakang historis, maka terdapat 2 tradisi utama dalam pandangan konseling, yaitu bimbingan vokasional dan psikoterapi. Bimbingan vokasional merupakan metode rasional dalam meningkatkan kesesuaian antara konseli dengan suatu kegiatan, profesi atau pekerjaan yang dilakukan, berdasarkan informasi yang tepat, testing, dan aktivitas pemecahan masalah. Sedangkan psikoterapi berkaitan dengan isu-isu emosional dan hubungan interpersonal dan menolak pernyataan bahwa konseling merupakan media untuk desiminasi informasi dan pembuatan keputusan. Konseling lebih sebagai suatu relasi membantu personal sebagai fokusnya. Dalam tradisi ini, perspektif-perspektif yang berhubungan dipadu bersama dengan bantuan psikologi konseling. Dalam perspektif lain, konseling merupakan suatu kajian yang secara meningkat dapat diidentifikasi sendiri dengan psikologi. Seperti seorang psikolog, teoris-teoris konseling mengadopsi atau menciptakan perspektif baru berdasarkan kontribusi dari bidang-bidang psikologi lain, termasuk belajar, perkembangan kognisi, sosial kepribadian, psikologi klinis, dan yang lainnya.
Konseling memiliki makna yang luas dan beragam. Banyak sudah dibahas dan dikaji tentang teori-teori konseling dan pendekatan-pendekatannya. Kajian perspektif konseling sebagai kerangka pemikiran dalam memahami kejelasan teori-teori serta praktek konseling sesuai alasan-alasan konseptual, sosial, dan historikal, juga telah memberikan beberapa gambaran atau ilustrasi bahwa konseling memiliki makna atau perspektif yang amat luas dan beragam. Masing-masing makna muncul dan berkembang seiring dengan latar belakang konseptual, sosial, dan historikal. Adanya keragaman (bahkan mungkin kotradiktif) sama sekali bukan berarti bahwa konseling merupakan sesuatu yang ambigu, tetapi justru mencerminkan kekayaan serta dinamika perkembangan konseling sebagai kajian ilmu. Keragaman yang muncul berdasarkan alasan historikal, juga bukan berarti bahwa makna yang satu tergantikan oleh makna yang lain, tetapi lebih dipandang sebagai penambahan atau perluasan makna serta kepeduliannya dalam menyikapi dinamika problematika kehidupan sesuai dengan konteks sosial dan kemampuannya dalam menyesuaikan diri dengan tuntutan dinamika perkembangan ilmu pengetahuan.
Sekalipun secara metodologis/keilmuan, konseling sulit menghasilkan suatu pendekatan yang integratif, namun dimensi-dimensinya dapat diklasifikasikan secara jelas dan baik berdasar atas pendekatan-pendekatan yang yang dibangun berdasar atas ideologi, landasan konseptual, atau teori-teori yang mendasarinya, dan lebih sempit lagi kepada bagaimana memahami suatu permasalahan dan apa yang menjadi fokus garapan atau sasaran yang mampu memediasi terjadinya perubahan perilaku sesuai yang diharapkan, sesuai kerangka kerja konseling. Dengan demikian, hasilnya dapat dijadikan sebagai acuan bagi konselor dalam mengorganisasikan pola-pola praktek konseling, dengan tetap tidak mereduksir konselor pada satu dimensi. Dengan demikian klasifikasi hakekatnya memberikan tawaran bagi konselor untuk memilih gaya atau pendekatan tertentu yang dianggap paling baik, paling tepat, paling sesuai, paling dipahami, dan paling dikuasai.
Adanya dimensi-dimensi pendekatan dalam konseling ini pula yang menjadikan gaya konselor yang satu dengan yang lain saling berbeda atau beragam, dan bahkan kadang-kadang tampak kontradiktif. Disamping itu setiap pendekatan juga merefleksikan fungsi konseling yang berbeda, sehingga menuntut fungsi dan peran konselor yang berbeda pula. Hal ini, hakekatnya tidak masalah karena konseling sendiri merupakan sesuatu yang ”inkonsisten” (dalam arti boleh memilih salah satu pendekatan) sekaligus konsisten (sekalipun menggunakan pendekatan berbeda, namun tetap mengutamakan aspek relationship). Setiap pendekatan juga memiliki kekuatan dan kelemahan masing-masing, dan tidak ada satu pendekatan yang cocok untuk semua konselor dan untuk semua masalah, sehingga aplikasinya tidak dapat dipaksakan secara ekstrim untuk semua konselor dan semua masalah.
Dalami buku ”Counseling Psychology : Perpsective and Functions” karya Stone (1985) tampak bahwa sangat berharganya menelusuri makna dan nilai filosofis dari konseling, terutama ditinjau dari perspektif sejarah atau dinamika perkembangan konseling serta apikasinya di lapangan. Dengan demikian dapat membuka cakrawala baru bagi para konselor dalam proses pencarian makna filosofis dari konseling, sehingga dapat diperoleh pemahaman yang lebih luas, mendalam, dan integratif, baik dalam kaitan konseling sebagai ilmu pengetahuan maupun sebagai profesi. Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa berdasar perspektif psikologi konseling, konseling pertama-tama dimaknai sebagai memandu, kemudian menyembuhkan, memfasilitasi, memodifikasi, merestrukturisasi, mengembangkan, mempengaruhi, mengkomunikasikan, dan mengorganisasikan.
(Insya Allah.... ada kelanjutannya...)

2 komentar:

  1. Pelaksanaan Bimbingan Konseling sangat membutuhkan keterampilan konselor dalam memilih teknik yang tepat/sesuai terhadap satu kegiatan. Di Sekolah misalnya, untuk melakukan penanganan terhadap siswa yang bermasalah sangat membutuhkan dukungan dan pemahaman orang tua siswa tersebut, tetapi kenyataannya sering terjadi pihak orang tua menyerahkan pada pihak sekolah ( maunya instan )atau boleh dibilang terima bersih. Di era yang IN dengan KESIBUKAN ORANG TUA ini, Konselor di sekolah perlu menerapkan berbagai pendekatan yang tepat dan alternatif informan dalam penanganan masalah tersebut sehingga proses kegiatan bimbingan konseling mencapai tujuan yang diharapkan. Untuk itu semoga Bapak sudi memaparkan berbagai alternatif teknik komunikasi yang baik sebagai pilihan, berdasarkan pendekatan psikologi untuk kasus tersebut.

    BalasHapus
  2. Insya Allah Bu...... Semoga Tuhan memberikan kelonggaran waktu.... Konseling bukan sekedar Ilmu namun juga Seni.... inilah menariknya menjadi seorang Konselor.....

    BalasHapus

Smpn 3 Cibadak Sukabumi Jawabarat Slideshow: Enita’s trip from Bandung, Jawa, Indonesia to Sukabumi was created by TripAdvisor. See another Sukabumi slideshow. Create your own stunning free slideshow from your travel photos.

Silahkan Tulis Komentar anda disini